Persiapan Menjelang Ramadhan

August 4, 2008 at 11:32 pm Leave a comment

Persiapan Mental

Persiapan mental untuk puasa dan ibadah terkait lainnya sangat penting.
Apalagi pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga
yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dll, sangat
mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusu’an ibadah Ramadhan.
Dan kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya.
Jika akhir Ramadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub yang lainnya,
maka insya Allah dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah
Ramadhan.

Persiapan ruhiyah (spiritual)

Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti
memperbanyak membaca Al-Qur’an saum sunnah, dzikir, do’a dll. Dalam hal
mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban,
sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah ra. berkata:” Saya tidak melihat
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan
puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu
bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR
Muslim).

Persiapan fikriyah

Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya
ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa
tidak menghasilan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan karena
puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal
tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.

Persiapan Fisik dan Materi

Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa
jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga
kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah
mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan
kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :

• Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud).

• Berobat seperti dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.

• Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud ra,
agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang
cemberut. (HR. Al-Haitsami).

Sarana penunjang yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang
halal untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah
menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika
datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusu’ dan tidak berlebihan
atau ngoyo dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu
kekhusu’an ibadah Ramadhan.

Merencanakan Peningkatan Prestasi Ibadah (Syahrul Ibadah)

Ibadah Ramadhan dari tahun ke tahun harus meningkat. Tahun depan harus
lebih baik dari tahun ini, dan tahun ini harus lebih baik dari tahun
lalu. Ibadah Ramadhan yang kita lakukan harus dapat merubah dan
memberikan output yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga,
perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa. Allah SWT berfirman :
« Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri »
(QS AR- Ra’du 11). Diantara bentuk-bentuk peningkatan amal Ibadah
seorang muslim di bulan Ramadhan, misalnya; peningkatan, ibadah puasa,
peningkatan dalam tilawah Al-Qur’an, hafalan, pemahaman dan pengamalan.
Peningkatan dalam aktifitas sosial, seperti: infak, memberi makan
kepada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim,
beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan dan meringankan beban umat
Islam. Juga merencanakan untuk mengurangi pola hidup konsumtif dan
memantapkan tekad untuk tidak membelanjakan hartanya, kecuali kepada
pedagang dan produksi negeri kaum muslimin, kecuali dalam keadaan yang
sulit (haraj).

Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrut Taubah (Bulan Taubat)

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana syetan dibelenggu, hawa nafsu
dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.
Sehingga bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk
bertaubat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami.
Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta
kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah SWT,
meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat.

Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga
terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertaubat masuk
kelompok yang beruntung. Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur 31).

Oleh karena itu, di bulan bulan Ramadhan orang-orang beriman harus
memperbanyak istighfar dan taubah kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan
dan meminta ma’af kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta
mengembalikan hak-hak mereka. Taubah dan istighfar menjadi syarat utama
untuk mendapat maghfiroh (ampunan), rahmat dan karunia Allah SWT. “Dan
(dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu
bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras
atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan
janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS Hud 52)

Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah, Da’wah

Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para da’i dan
ulama untuk melakukan da’wah dan tarbiyah. Terus melakukan gerakan
reformasi (harakatul ishlah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar
kasih sayang bagi sesama. Meningkatkan kepekaan untuk menolak
kezhaliman dan kemaksiatan. Menyebarkan syiar Islam dan meramaikan
masjid dengan aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dll,
sampai terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam
berbagai bidang kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang
menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum
tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan, sehingga kebaikan itulah
yang dominan atas keburukan. Dan dominasi kebaikan bukan hanya dibulan
Ramadhan, tetapi juga diluar Ramadhan.

Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrul Muhasabah (Bulan Evaluasi)

Dan terakhir, semua ibadah Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh
lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah
yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati
(bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang/kelompok yang selalu
mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain tanpa mau bergeser dari
perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya. Semoga Allah
SWT senantiasa menerima shiyam kita dan amal shaleh lainnya dan
mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita
sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih
baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera. Dan itu baru akan
terwujud jika bangsa ini yang mayoritasnya adalah umat Islam kembali
kepada Syariat Allah.

Entry filed under: Khazanah. Tags: .

10 Profil Orang Sukses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


August 2008
M T W T F S S
     
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives


%d bloggers like this: